CERPEN OSIS MENGENASKAN




OSIS MENGENASKAN

            Sudah pada tau kan, ibu jari itu apa? Yaa,, ibu jari itu JEMPOL. Jempol anak muda sekarang digunakan untuk apa? Untuk SMSan, BBMan, FACEBOOKan, TWITTERan. Emang gak ada salahnya anak muda sekarang menggunakan jempolnya untuk lomba ngetik kata-kata yang gak perlu. Tapi itu sesuatu yang sangat bermanfaat untuk jempol. Karena memang fakta, jempol sudah mulai terdiskrimansi, jempol sudah jarang digunakan. Jempol tidak lagi bisa kita acungkan untuk pemerintahan Indonesia. Tidak bisa kita acungkan untuk anak yang mendapatkan nilai bagus. Karena memang semua hasil curian. Lalu apa yang bisa kita gunakan dari jempol?? Yaa main HP. Satu kata yang mulai menghilang “DISIPLIN”. Jadi jempol kita disiplin untuk main HP berarti jempol kita menyelamatkan disiplin dari kepunahan.
            Dulu ketika di SMAN 17 Jatiroto melakukan pemilihan ketua OSIS, aku termasuk 17 dari ribuan anak untuk dijadikan ketua OSIS, keren juga. Aku gak kebayang bisa meraih ini semua. Padahal yang lebih ganteng dari aku itu banyak. (karena sekarang memang ketua OSIS jual KUANTITAS, bukan KUALITAS) jadi aku lumayan mengherankan kejadian ini karena masuk dalam 7 kejadian aneh di on the spot. Aku bisa masuk ke 17 besar karena aku selalu tiba tepat waktu katanya. Menurutku disiplin itu harga keseimbangan, bukan barang yang bisa di tawar menawar. Karena kata ‘DISIPLIN’ itu termasuk persimpangan. Yang bisa membuat kita tampak baik, ataupun kita tampak buruk.
            Kampanye dilaksanakan, jantungpun tak menentu. Seperti ada perang dunia ke3 dalam hati, karena hatiku berdegup terlalu kencang, kecepatan 180km/h. bayangin tambah 1km/h lagi mungkin aku bisa mati ditempat, masuk UGD.. lalu…… hidup lagi. ‘sedikit aneh’. Tak ada persiapan yang matang untuk sebuah kampanye karena memang kampanye ini langsung diadakan tampa pemberitahuan. Maka dari itu ada perang dunia ke3 dijantungku. Lebih baik nembak cewek waktu upacara, daripada kampanye gak ada persiapan.
            Aku memutar otak, dari kanan ke kiri, dari atas ke bawah, bahkan dari sabang sampai merauke. Akhirnya aku menemukan cara memikat teman2ku seupaya aku bisa menjadi ketua OSIS. Seimbangkan murid dengan guru / merdekakan murid. Jadi intinya murid sama-sama bebas seperti guru, kalau guru suka terlambat berarti siswanya juga boleh terlambat. Tapi karena pidatoku ini, aku hampir saja dibenci semua guru. *padahal udah*. Tapi tidak ada salahnya yang aku bicarakan, guru itu suka terlambat. Entah terlambat masuk sekolah, atau terlambat masuk kelas. Tapi yang aku herankan, guru itu gak pernah telat apabila waktunya gajian.
            Akhirnya aku  terpilih menjadi ketua OSIS. Dengan usahaku yang terlalu jujur dan membuat guru benci ini, aku bakalan berusaha membuat pemikiran guru terhadapku barbalik 180 derajat. Sehingga aku tak perlu lagi memiliki dosa karena aku dibenci dan dibicarakan oleh guru-guru. Setelah itu aku dilantik menjadi ketua OSIS dan Della menjadi wakilku, betapa senangnya aku memiliki wakil secantik Della, kok bisa dia mau jadi wakilku. Mungkin dia sadar aku orang yang memiliki aura kuat. (Aura untuk dibenci).
            Sesudahnya aku dilantik, mulai diadakan rapat untuk anggota OSIS. Membicarakan masalah acara ulang tahun sekolah. Yang kalo aku pikir-pikir acara pasti akan berjalan sangat seru, masalahnya ulang tahun sekolah kali ini aku yang menjadi koordinatornya. Rapat akan diadakan besok pagi pukul 04.210 itung aja sendiri rapat yang sebenarnya jam berapa. Hatiku ingin cepet2 besok, karena besok aku janji bakaln berangkat dengan menjemput Della terlebih dahulu dan berangkat bareng Della. Tanpa ku sadari, aku sudah mirip dengan tukang ojek.
            Esokpun datang, hari yang indah, langitnya biru cerah, bersemi dan berseri, si cantik pelangi pagi. Itulah Della, aku jadi serasa bagus netral pada hari itu. Ketua OSIS berangkat bareng dengan wakil ketua OSIS. Terlihat sekali kepalsuan kekompakan. Aku jemput Della pada hari itu, dan aku disuruh menunggu papanya 1 jam. Sialan banget kan pak tua botak yang berkumis dan berjanggut mata melotot. Bayangin betapa seremnya ayah si Della, seperti mickey mouse. Mickey mouse serem?? Iyaa emang, aku mimpi buruk habis nonton mickey mouse. Tapi aku sadar, kenapa aku harus menunggu 1 jam, karena waktu itu memang masih jam 6 pagi, masuknya aja jam setengah 8, kelihatan banget aku kalo berharap bareng sama si Della terus.
            Kesialan pun terjadi, banku bocor di tengah jalan di depan kuburan china, dan akhirnya aku dorong sepeda motorku sedangkan Della, yaaa Della naik taksi, dan aku yang bayarin. Sial banget jadi cowok itu. Sekolahku berjarak sekitar 15km dari rumah Della, kalo dari rumahku hanya 2km jadi sia-sia banget perjuanganku selama ini? Aku pun nemuin tambal band, masudnya tambal ban. Disitu aku curhat dengan seseorang, aku menangis, aku peluk bapak itu, dan aku jelaskan. Bahwa banku bocor. Aku harus menunggu-menunggu lagi, jadi tema unuk hari ini adalah menunggu kesialan.
            Setelah banku selesai ditambal, akhirnya aku langsung ngebut ke sekolah motorku jalan sangat kencang, sekitar 40km/h. lebih cepat detak jantungku waktu aku harus melaksanakan yang namanya kampanye. Sesampainya disekolah, aku  langsung memasuki ruang dengan meminta maaf kepada Pembina OSIS. Bu Yunita. Bu Yunita menghiraukanku, tapi memaafkanku. Tumben-tumbennya Bu Yunita maafin kesalhanku dan gak marah—marah. Ternyata eh ternyata, coordinator untuk acara ulang tahun sekolah sudah dipindahkan ke tangan Bobi, dan semua angan-anganku di acara sekolah ini gagal semuanya, aku hanya menjadi anak gawang di perlombaan sepak bola. Ya menurutku itu hukuman setimpal buat anak yang rumahnya dekat tapi terlambat selayaknya aku ini.
            Setelah lama menunggu lagi, akhirnya event OSIS yang baru pun telah hadir. Yaitu acara LDK anggota OSIS yang digunakan untuk melantik anggota2 yang saat ini. Yang dibicarakan pertama kali adalah tempat tujuan dimana akan diakan LDK ini. Rapat yang pertamapun dilaksanakan, aku tetep aja berusaha bagaimana caranya agar aku bisa berangkat bareng sama Della. Sudah lama aku menanti cintanya^^.
            Untung penjemputanku yang kedua kepada Della tidak lagi gagal. Semuanya berjalan dengan lancar. Dan aku hari itu bisa dating rapat tepat waktu menurut waktu yang di BBM Bobi kepadaku. Tapi sialnya ternyata aku dibohongi oleh sib obi. Lagi2 aku terlambat, dan pandangan Bu Yunita terhadapku sudah berubah. Aku tidak bertanggung jawab dimatanya. Aku tidak disiplin menurutnya. Mulai saat itu rasanya hati ini telah hancur lebur. Della pub bisa2nya pulang bareng sib Bobi.
            Setelah kejadian kemarin, aku terlambat repat, akhirnya aku mendapatkan surat dari Bu Yunita yang berisikan bahwa aku tidak bisa lagi menjadi ketua OSIS. Karena SMAN 17 Jatiroto memerlukan sosok ketua OSIS yang bertanggung jawab. Semakin kesini, semakin serius pula cerita ini, aku tidak inin pembaca ikut bersedih membaca tulisanku ini. Sebaiknya pembaca menyukai tulisanku saja.
            Lebih kaget lagi diriku ini, setelah mengetahui yang menggantikanku menjadi ketua OSIS bukanlah Della. Namun si Bobi yang telah kurang ajar terhadap ku itu. Karena dia, aku tidak lagi menajdi ketua OSIS. Tapi biarlah, ini jalan terbaik tuhan. Semuanya aku lalui dengan hati yang terbuka. Dan aku mengetahui pelajaran baru. Orang munafik itu tidak terlihat namun bisa dirasakan. Sama halnya dengan kentut.
            Waktupun berjalan seperti biasa 1 menit diisi dengan 60 detik yang berdetak. Kurasakan kehilangan semangat hidup dari hari ke hari. Ketika aku tidak bisa lagi mewujudkan mimpi siswa-siswa untuk menyetarakan kedudukan siswa dengan gurunya. Seolah-olah mentari yang telah siap menyinari bumi, namun terlebih dahulu tertelan oleh awan mendung. Suatu hari nanti. Matahari pasti tetap akan terbit kembali spertin biasanya.
            Keanehan mulai terjadi, kegiatan OSIS yang diadakan oleh Bobi bersama Della, ternyata sama saja. Berjalan tidak mulus. Aku dan tomi yang merasakan hal itu terjadi. Kesialan-kesialan yang aku alami seperti ban bocor, dan dibhongin masalah waktu. Itu terjadi pula pada Bobi. Bobi langsung saja menuduhku seakan-akan tidak ada tersangka lain selain aku. Padahal aku tidak mengerjakan ini semua. Dalam hati aku berpikiran. Tuhan itu memang adil, adukan saja semuanya kepada tuhan kita/
            Setelah beberapa waktu, akhirnya Bobi mengetahui siapa pelaku sebenarnya. Yaitu Kelvin. Kelvin tidak terima atas perlakuan yang dilakukan Bobi terhadapku sehingga Kelvinpun membalaskan dendam. Dia memang teman baikku, dia juga merupaka teman yang setia. Sama seperti rumput. Kecil tapi selalu menjaga.
            Bu Yunita memang tidak menyukai anak-anak yang tidak disiplin. Aku akui memang Bu Yunita merupakan guru yang paling disiplin. Mencari guru yang seperti ini susahnya minta ampun di Indonesia. Menurut surfei yang dilakukan “oetjoepedia.blogspot.com” 2 dari 10 orang diindonesia lebih memilih terlambat bersama daripada disiplin. Itu yang terjadi pada Indonesia sekarang. Bu Yunita sampai saat ini tetap memaksakan memakai Bobi.
            Rapat tentang acara tahun baru diadakan. Tapi mengapa aku selalu saja memiliki masalah. Kali ini masalahkuu lebih parah daripada ban bocor. Sembelit masalahku yang kali ini, aku tidak bisa focus mengikuti rapat, dan aku jadi sasaran empuk tempat pengejakan dan tempat membuang amarah. Wajahku sangat pucat sekali, seperti kucing yang tidak makan 3 hari berturut-turut. Aku menahan rasa ingin kentutku. Dan ku coba-coba keluarkan perlahan, supaya tidak ada yang mengetahui. Misi pertama berhasil, meletupkan kentut tapi tidak ada yang mengetahui. Hanya saja kita sekelas saling menyalahkan satu sama lain. Aku aja menuduh Bobi yang kentut. Hehehe. Kentut yang kedua aku coba keluarkan perlahan-lahan namun yang terjadi kentutku keluar dengan suara pelan tapi merdu. Seperti biola. Tapi yang ini baunya istimewa. Mampus sudah aku dibuat caci maki anak sekelas. Semenjak itu pula, Della tidak mau lagi jalan-jalan bareng sama aku lagi, mungkin dia takut apabila aku kentut did pan muknanya. Tapi pikiran dia terlalu lebay. Mana mungkin aku kentut di mukanya. Pastinya aku kentut dibelakang pantatku lah.
            Masalah demi masalah terjadi di ilingkungan OSIS, dari mulai terbetuknya 2 kubu, yaitu kubu Kelvin dan kubu Bobi. Aku inginnya sih ikut kubunya Della, sayangnya Della tidak membuat kubu. Sudah tampaklah kehancuran di OSIS tahun ajaran kali ini, aku ikut-ikutan tidak enak sebagai ketua OSIS pertama kali ini yang sepertinya akan berakhir berantakan.
            Semuanya menjadi kacau, ketika Bu Yunita mengetahui semua ini, kami semua harus dihadapkan dengan bapak kepala sekolah yang berkumis lebat itu. Bukan sesuatu yang mudah untuk menghadapi Kepala Sekolah. Karena aku yakin, Kepala Sekolah lebih berpengalaman untuk menyeleseaikan masalah yang seperti ini. Dan sepertinya kesalahan ada padaku, seolah-olah aku yang membuat seperti ini, aku menjadi  ketakutan. Tapi sebagai lelaki sejati aku tidak akan pernah mundur menghadapi masalah. Tapi aku pulang dari sekolah karena aku pura-pura mules. Akhirnya pertemuan dengan Kepala Sekolahpun dibatalkan. Semakin terasa firasatku bahwa aku termasuk dalam tersangka dalam kasus kali ini, karena hanya karena tidak ada aku. Semuanya dibatalkan.
            Aku pun sampai rumah dengan perasaan yang lega, karena aku berhasil meloloskan diri dari pertemuan dengan kepala sekolah. Aku pun melanjutkan aktivitasku dengan tidur siang. Cerita yang membosankan sampai saat ini mungkin.
            Ketika aku bangun dari tidurku, aku melihat ada 7 pesan BBM baru, ternyata Tomi memberitahuku dengan kata-kata yang lebay seperti ini “m4mPu5, b350k k3p4l4 s3k0lah 4d41n p3rt3mUan in s3k0laH”. Yaa aku bales “aku bukan Serlock Holmes, bisa nemuin kata sandi :P” anak-anak sekarang memang mulai aneh. Untung aja aku ngerti, meskipun aku belum berguru pada Serlock Holmes. Tapi aku harus siap menghadapi semua ini.
            Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan tubuh yang kaku, wajah memelas pucat pasih. Karena aku mengetahui bakalan ada pertemuan yang bisa mengahancurkan reputasiku di sekolah ini. Aku biarkan hari ini berjalan dengan apa adanya, dan seperti biasanya. Kami semua (anggota OSIS) memasuki ruangan kepala sekolah dengan kepala menunduk. Bukan karena aku merasa takut, tapi karena berfikiran siapa tahu ada uang jatuh di ruangkan pak Kepala Sekolah, tapi ternyata tidak ada L. Makin hancurlah perasaan ini, ketika aku yang dianggap bersalah oleh Kepala Sekolah. “Ini semua karena Ucuplah pelakunya”, kenapa pak Kepala Sekolah ikut-ikutan manggil Ucup yaa? Berarti Ucup sudah terkenal, tak apalah. Dan akhirnya aku kali ini tidak mengikuti pertemuan yang kedua kalinya, karena kali ini aku pura-pura pingsan karena kaget mendengar berita tadi. Namun hasil rapat tetaplah ada, yaitu menempatkan Della sebagai ketua OSIS. Karena mungkin lelaki yang betanggung jawab di dunia ini jumlahnya sudah mulai berkurang, dibandingkan 1 windu yang lalu.
            Sementara pemerintahan Della berlanjut, aku harap tidak akan ada lagi masalah yang akan terbuat disini. Dan berharap aku bisa menjadi menteri yang terbaik buat Della. Walaupun tidak akan seburuk menteri2 di Indonesia ini.
            Saat semuanya mulai bahagia dengan keadaan Della sebagai ketua OSIS yang baru, yang membuat OSIS lebih bermakna di sekolah. Namun pada akhirnya OSIS di bekukan untuk sementara karena Bu Yunita meninggal dunia karena kecelakaan yang menyebabkan Bu Yunita meninggal dunia.
            Kami semua berangkat ke rumah sakit dengan perasaan yang sedih, Della menangis riang, oh sorry. Maksudku menangis sedu karena kepergian sosok Bu Yunita yang sangat bertanggung jawab, walaupun seringkali pula membuat aku jengkel karena perintahnya yang terlalu bervariatif. Aku pun masih banyak merasa bersalah kepada beliau karena aku sering menjadikan Bu Yunita barang pembicaraan yang tidak baik, dan aku belom sempat meminta maaf kepada Bu Yunita. Semoga Bu Yunita di terima disisinya di alam sana.
            Sampai saat ini, OSIS vakum untuk sementara, menunggu pergantian Pembina OSIS, dengan kepergian Bu Yunita semuanya menjadi hancur. Kini aku telah sadar, bahwa orang yang aku benci, orang yang aku jengkelkan. Terkadang orang itu masih ada niat baik kepada kita. Aku menyesal karena kejadian ini semua, aku telah menghancurkan OSIS SMAN 17. Dan aku masih belom bisa mempertanggung jawabkan itu semua, karena aku tidak tahu apa yang bisa aku perbuat untuk tanggung jawab atas kesalahanku pada sekolah ini.
            Bu Yunita meninggalkan pesan seperti ini di map tempat absensi para anggota OSIS:
            “Anak-anak sekalian, Bu Yunita sangaaat (“A”nya tiga) berterima kasih atas apa yang kamu berikan kepada Bu Yunita. Entah mengapa Bu Yunita ingin sekali mengucapkan terima kasih akhir-akhir ini. Tapi Bu Yunita tidak bisa menyampaikannya secara langsung. Sampai suatu saaat nanti kamu semua membaca surat ini, Bu Yunita meminta maaf apabila Bu Yunita sering sekali menjengkelkan kalian. Itu semua karena Bu Yunita sayang pada kalian. Dan terutama buat Ucup yang mungkin merasa terbebani akibat adanya Bu Yunita. Bu Yunita minta maaf, sebenarnya Bu Yunita hanya ingin menjadikan Ucup anak yang bertanggung jawab. Maafkan Bu Guru yaa Cup, tapi apabila kamu sempat membaca surat ini dan mau memaafkan kesalahan Bu Yunita pada kamu. Setelah Bu Yunita tidak bisa kamu lihat lagi, Bu Yunita harap kamu sudah berubah menjadi anak yang bertanggung jawab seperti yang Bu Yunita inginkan. Terima kasih semua… “Bu Yunita”.”
            Entaah mengapa setelah membaca surat itu aku mulai meneteskan air mataku, hingga membasahi lantai ruang OSIS. Kini aku merasakan hisup sia-sia di bumi ini karena aku telah mengecewakan Bu Yunita. Ternyata Bu Yunita telah memiliki firasat buruk pada dirinya.
            Dan kita harus melakukan yang terbaik, yang kita miliki kepada siapapun. Apalagi terhadap orang tua kita. Karena kita tidak akan mempu mebalas semua jasanya. Dan patuhlah kepada orang tua, karena yang mereka inginkan kita menjadi anak baik. Tidak mungkin orang tua meinginkan anaknya menjadi anak nakal. Sebisa mungkin kita patuh kepada mereka, sebagai rasa terima kasih kita telah dibesarkan hingga saat ini. Sebelum mereka pergi meninggalkanmu.
           


0 komentar:

Posting Komentar